Kamis, 12 Juli 2012

Sejarah YPPF Penetrasi Silambawiqri


YPPFbw.jpgSejarah Singkat Yayasan Pondok Pesantren Fathurrobbaaniy Rangkasbitung
 (Penetrasi dari Perguruan Silambawiqri) (*
Oleh : Agus Tarunajaya, S.PdI (**



Ketika ada pertanyaan Ayam dulu atau Telur dulu, maka sejarah Pondok Pesantren (ponpes) Fathurrobbaaniy tidak lepas dari Perguruan Silambawiqri (Silat Tenaga dalam Batin Wiqoyah Riayah) yang menelurkan ide untuk berdirinya Ponpes Fathurrobbaniy sebagai lembaga dakwah, pendidikan, yang merupakan penetrasi dari pendekatan Silambawiqri dibidang Wiqoyah (pendidikan).

1.     Sejarah Singkat Perguruan Silambawiqri
Perguruan Silambawiqri didirikan oleh Asyeikh KH. Drs. Ach. Fathoni Karim (Roisul Ma’had) pada tanggal 29 Agustus 1993 M / 12 Rabiul awal 1414 H, di kampung Palaton Jaura, Rangkasbitung. Jauh sebelum berdiri secara resmi sebagai perguruan silat, praktek kaderisasi Silambawiqri sudah berjalan sewaktu Asyeikh masih menempuh pendidikan di Ponpes Tebu Ireng Jombang Jawa Timur. Hingga kembali ke kota Rangkasbitung, anggota Silambawiqri semakin banyak dan terus bertambah dari tingkat pelajar, pemuda dan mahasiswa, sampai akhirnya dideklarasikan sebagai Perguruan  Silat Tenaga dalam Batin Wiqoyah Riayah; Silambawiqri.
Untuk merealisasikan dan mengembangkan cita-cita perguruan Silambawiqri, maka menjadi keniscayaan untuk mendirikan 3 (tiga) buah lembaga yang menjadi pilar perguruan, yaitu :
1.       Lembaga pelatihan Silat tenaga dalam bathin (Silamba) semisal sebuah Padepokan, atau seperti IPS NU Pagar Nusa.
2.       Lembaga Pendidikan (Wiqoyah), seperti pondok pesantren dan madrasah atau perguruan tinggi.
3.       Lembaga Organisasi (Riayah), semisal Nahdlatul Ulama (NU) dsj.
Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, maka Asyeikh beserta beberapa murid anggota PSWR hijrah dari Palaton ke Hutan Cisalam, yang kemudian diberi nama Kampung Sawah Salam sampai sekarang, untuk mendirikan Pondok Pesantren dan Madrasah yang diberi nama Fathurrobbaniy.

2.     Yayasan Pondok Pesantren Fathurrobbaaniy (YPPF)
Pondok Pesantren Fathurrobbaaniy berdiri pada tanggal 20 Agustus 1994 / 12 Rabiul awal 1415 H diatas tanah 2000 M2 di Kp. Sawahsalam Kel. Cijoropasir Kec. Rangkasbitung Kabupaten Lebak Provinsi banten. Pondok ini didirikan oleh KH. Drs. Ach. Fathoni Karim atas saran beberapa Ulama sepuh Lebak. Dimulai dari pengajian Al-Qur’an dan Pelatihan Silambawiqri ( Silat Tenaga dalam Batin Wiqoyah Riayah), pesantren ini mendapat respon dari masyarakat sehingga pada tahun 1996 mendaftarkan diri  sebagai  Yayasan  yang sah berbadan Hukum  dengan akta Notaris No.01, tanggal 7 Pebruari 1996.
Nama “Fathurrobbaaniy” diambil dari nama salah satu kitab Akhlak Tasawuf ; wejangan Syeikh Abdul Qodir Jaelani al-Bagdadi (dari Irak, keturunan dari Nabi SAW ke – 9, Ayah dari keturunan Hasan bin Ali RA, ibu dari keturunan Husen bin Ali RA). Itu sebabnya, pesantren Fathurrobbaniy dalam pendidikannya berkonsentrasi pada kajian & kaderisasi Akhlak Tasawuf, Pesantren akhlak tasawuf, santri yang memiliki disiplin ilmu dan berkarakter akhlak tasawuf.
Berdasarkan keinginan dan kebutuhan masyarakat serta perkembangan dunia pendidikan di era Globalisasi, Pada tanggal 17 juli 1997, YPPF melegitimasi sebagai “Pondok Trendsalafy Pascamodern”, pondok pesantren alternatif, yang memadukan dua sistem, budaya, karakter, dari generasi salafy (generasi ke 1 – 3 setelah Nabi SAW wafat, jadi bukan adopsi pesantren salafi tradisional yang ada di Indonesia) dan generasi “masa depan” Pascamodern (yang berorientasi pada perubahan, perbaikan untuk masa depan, salah satunya mempersiapkan bekal untuk akhirat. Jadi bukan adopsi pesantren modern yang ada di Indonesia sekarang, yang sebenarnya sudah kadaluarsa, karena modernisasi sampai abad ke-20, sedangkan sekarang sudah di abad ke 21). Maka dibukalah pendidikan formal untuk tingkat : 1. Madrasah Tsanawiyah (MTs) 2. Madrasah Aliyah (MA) dan 3. Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA). Hingga Saat ini pesantren dan sekolah terus berkembang pesat, baik dari infrastruktur, bangunan yang berdiri diatas tanah seluas 5 Ha (hektar), sebagai hak milik  yayasan dan sebagaian lagi hasil wakaf  yang sudah bersertifikat.
Seperti yang sudah di jelaskan di atas, Sistem pendidikan yang dikembangkan di yayasan Pondok Pesantren Fathurrobbaaniy adalah gabungan antara salafy murni dan pascamodern. Santri disamping mengikuti pengajian kitab kuning  dengan metode halaqoh juga mendapat pola pendidikan classikal (Kelas) ciri khas modern. Dalam Penerapannya menggunakan sejumlah pendekatan kontemporer seperti Intelegency Quotient, Emotional Quotient, dan spirituality Quotient. Misalnya siswa  diperbolehkan mengatur bentuk rupa kelas sesuai dengan  rasa kenyamanan masing-masing. Siswa juga diberi keleluasaan mengatur administrasi kelas, dan kaderisasi SDM yang madiri dengan kegiatan pertanian serta JamSih. Melalui cara ini siswa memiliki peluang  untuk mendapatkan perkembangan Emotional Quotient dan Sosial Comitment. Disamping itu siswa wajib mengikuti ekstrakurukuler Silat Tenaga dalam Batin Wiqoyah Riayah SILAMBAWIQRI, Pramuka, Muhadhoroh, Marching Band, Seni Budaya Hadroh, mading, dll. dan kegiatan Ektra Silambawiqri pada tahun 2005 menghasilkan  Juara I (medali emas bagi santri putera) Pencaksilat dan Juara II (medali perak) untuk santri puteri pada kegiatan Pospenas di Medan.
Semenjak berdiri, YPP Fathurrobbaaniy cuma memiliki santri 15 orang santri kemudian setelah tujuh tahun (2005) mengalami perkembangan sampai 230 orang. Jumlah alumni dari tahun 1999 (angkatan pertama) hingga sekarang, angkatan ke-13 tahun 2012 kurang lebih ada 521 orang yang telah tetrsebar di pelbagai Perguruan Tinggi.
Dalam rangka mensukseskan sistem pendidikan di pesantren Fathurrobbaniy, Seluruh Santri WAJIB mengikuti Proses Belajar Mengajar (PBM) di dalam Kelas atau Masjid, mengikuti Pengajian, disiplin berbahasa Arab & Inggris, shalat berjama’ah, bergaya hidup Qona’ah dan Mandiri, serta mentaati segala peraturan yang ada di pesantren, baik yang mengikat, maupun yang tidak seperti bersikap akhlaki dalam ubudiyah maupun sosial. Santri Fathurrobbaniy dalam aktifitasnya mendapat bimbingan dan diasuh oleh 23 orang Guru pengajar dan 4 orang karyawan administrasi.

Demikian sejarah singkat YPP Fathurrobbaaniy, yang sebenarnya masih banyak fase-fase perubahan belum terilustrasi di sini, mudah-mudahan tulisan ini sedikit mewakili memberi gambaran umum tentang ponpes Fathurrobbaaniy kepada santri baru, umumnya seluruh elemen pondok yang ada untuk kembali memposisikan diri sebagai generasi Arrobbaaniy (kekasih Allah yang sempurna ilmu, iman, dan ketaqwaannya). Semoga.

(*  Judul Materi yang disampaikan pada kegiatan Orientasi & Pengenalan Ma’had (KOLAM), Tgl.12 Juli 2012
(**  Alumni Santri Fathurrobbaaniy angkatan ke 1, dan Guru Bidang Studi di MTs & MA Fathurrobbaniy

Selasa, 10 Juli 2012


BAB. I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah suatu usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik dalam peranannya di dalam masyarakat, pada masa yang akan datang baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat.Pendidikan sangat penting dalam kehidupan yang sifatnya mutlak, termasuk dalam kehidupan dari suatu bangsa dan negara.Melalui pendidikan yang diupayakan suatu bangsa atau negara dapat mencapai cita-cita dan tujuan hidupnya sesuai dengan falsafah dan pandangan hidup Negara. Sebagaimana tercantum dalam Undang – Undang No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional yang menyatakan bahwa tujuan Pendidikan Nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.
Text Box: 1Pendidikan akan berhasil apabila dikelola dengan cara yang baik. begitu pula kaitannya dengan proses belajar mengajar akan berhasil jika terdapat motivasi yang tinggi pada peserta didik. Motivasi akan mendasari keberhasilan belajar peserta didik.Banyak dijumpai anak yang berhasil dalam studinya, ada yang berprestasi tinggi (baik) ada yang sedang-sedang saja, bahkan ada yang gagal atau berprestasi rendah.
Dalam kenyataannya motivasi setiap siswa dalam belajar berbeda satu sama lain. Ada yang rajin belajar karena memang mempunyai motivasi ingin menuntut ilmu, ada pula siswa yang belajar karena mempunyai motivasi sekedar mendapat nilai yang bagus atau lulus ujian.
Dalam kegiatan belajar, motivasi memegang peranan penting, yaitu sebagai pendorong siswa dan merupakan syarat mutlak dalam belajar.Di sekolah, sering terdapat anak yang malas, tidak menyenangkan, suka membolos dan lain sebagainya.Dalam masalah demikian, berarti bahwa guru tidak berhasil memberikan motivasi yang tepat untuk mendorong anak-anak, agar mereka bekerja dengan segenap tenaga dan pikirannya.Sedangkan intensitas belajar siswa sudah barang tentu dipengaruhi oleh motivasi. Siswa yang ingin mengetahui sesuatu dari apa yang dipelajari adalah sebagai tujuan yang ingin siswa capai selama belajar, karena siswa mempunyai tujuan ingin mengetahui sesuatu itulah akhirnya siswa terdorong untuk mempelajarinya.Hampir seluruh akivitas belajar siswa adalah untuk mendapatkan prestasi belajar yang baik.Setiap siswa pasti tidak ingin memperoleh prestasi belajar yang jelek.Oleh karena itu setiap siswa berlomba-lomba untuk mencapai dengan suatu usaha yang dilakukan seoptimal mungkin.Dalam hal yang demikian maka prestasi belajar bisa dikatakan sebagai kebutuhan yang memunculkan motivasi dari dalam diri siswa untuk selalu belajar.
Salah satu bentuk keberhasilan belajar siswa adalah dilambangkan dengan angka atau nilai sebagai indek prestasi.Angka atau nilai adalah simbol dari keberhasilan kegiatan belajar. Dengan demikian maka, antara nilai dan motivasi tidak dapat dipisahkan dan saling terkait, sebab intensitas motivasi akan menentukan tingkat pencapaian prestasi belajar siswa.
Karenanya,  bila  siswa  mengalami  kegagalan  dalam  belajar,  hal  ini bukanlah  semata-mata  kesalahan  siswa,  tetapi mungkin  saja  guru  tidak  berhasil dalam membangkitkan motivasi siswa. Perhatian  siswa  terhadap  stimulus  belajar  dapat  diwujudkan  melalui beberapa  cara  seperti  penggunaan  media  pengajaran  atau  alat-alat  peraga, memberikan  pertanyaan  kepada  siswa,  membuat  variasi  belajar  pada  siswa, melakukan  pengulangan  informasi  yang  berbeda  dengan  cara  sebelumnya, memberikan stimulus belajar dalam bentuk  lain sehingga siswa tidak bosan.
Ada beberapa cara pemberian motivasi yang digunakan guru terhadap siswa dalam kegiatan belajar agar siswa tidak  merasa  bosan,  seperti  :  memberikan  hadiah,  pujian,  gerakan  tubuh, memberikan angka atau penilaian, memberikan tugas dan hukuman. Motivasi  yang  kuat  dalam  diri  siswa  akan meningkatkan minat,  kemauan dan  semangat  yang  tinggi  dalam  belajar.Dalam kegiatan belajar, maka motivasi menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai.Dapat dikatakan bahwa tingginya  motivasisiswa dalam  belajar  memiliki hubungan yang kuat terhadap tingginya  prestasi  belajar.  Karena motivasi merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi belajardan Hasil belajar.
Seorang siswa yang memiliki motivasi mempunyai kecenderungan untuk mencurahkan segala kemampuannya untuk mendapatkan hasil belajar yang optimal sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Semakin tinggi motivasi yang dimiliki siswa akan mendorong siswa bela jar lebih giat lagi dan frekuensi belajarnya menjadi semakin meningkat,sehingga hasil belajarnyapun meningkat. Akan tetapi, kuat dan lemahnya motivasi setiap orang berbeda, hal itu dipengaruhi oleh faktor cita-cita atau aspirasi, kemampuan belajar, kondisi siswa, kondisi lingkungan siswa, unsur-unsur dinamis dalam belajar dan upaya guru dalam kegiatan belajar mengajar di dalam kelas.
Dari pantauan penulis untuk observasi awal di lokasi penelitian yaitu MI Darul Huda Cibadak, didapati siswa kurang memiliki semangat untuk lebih konsentrasi pada pelajaran yang sedang berlangsung, kadang bersikap cuek dan malas-malasan atau mengantuk dan tidur-tiduran di kelas, ada juga yang bersenda gurau disaat guru sedang menjelaskan materi pelajaran  di dalam kelas. Bahkan ada sebagian siswa yang suka bolos pada jam pelajaran ke tiga atau terakhir, sehinga pada saat tes ulangan harian atau berkala, nilai prestasi mereka menurun. Sedangkan dalam evaluasihasil belajar siswa terutama untuk mata pelajaran Aqidah Akhlak, selain nilai kognitif, juga mempertimbangkan nilai kepribadian (afektif) atau akhlak siswa yang ternyata dalam aktivitas belajarnya mengalami penurunan, atau tidak sesuai dengan nilai kognitif mereka.
Berdasarkan permasalahan diatas, penulis tertarik untuk mencari gambaran yang kongkrit dan akurat di lokasi penelitian dalam bentuk skripsi yang berjudul : “MOTIVASI BELAJAR SISWA HUBUNGANNYA DENGAN PRESTASI MATA PELAJARAN AQIDAH AKHLAK”  (Penelitian di M I  Darul Huda  Cibadak).


B.     Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis merumuskan masalah penelitiannya sebagai berikut :
1.      Bagaimana motivasi belajar siswa dalam mengikuti pelajaran Aqidah Akhlak di M I  Darul Huda  Cibadak?
2.      Bagaimana prestasi siswa pada mata pelajaran Aqidah Akhlak di M I  Darul Huda  Cibadak?
3.      Apakah terdapat hubungan antara motivasi belajar siswa dengan prestasi mata pelajaran Aqidah Akhlak di M I  Darul Huda  Cibadak?

C.    Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah, maka secara khusus yang menjadi tujuan penelitiannyayaitu :
1.         Untuk mengetahui kekuatan motivasi belajar siswa pada saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di MI Darul Huda Cibadak
2.         Untuk mengetahuiprestasi siswa pada mata pelajaran Aqidah Akhlak di MI Darul Huda Cibadak
3.         Untuk mengetahui seberapa besar hubungan antaramotivasi belajar siswadenganprestasi mata pelajaran Aqidah Akhlak di MI Darul Huda Cibadak.


D.    Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat dan kegunaan sebagai berikut :
1.      Secara Teoritis
Penelitian ini menjadi input ilmu pengetahuan dan pengalaman berharga bagi penulis untuk menambah wawasan empiris tentang urgensi motivasi belajar dan tentang prestasi mata pelajaran Aqidah Akhlak yang harus terus ditingkatkan efektifitasnya.
2.      Secara Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberi kontribusi positif bagi praktisi pendidikan yang hendak meneliti lebih lanjut tentang motivasi belajar dan tentang prestasi belajar, juga menjadi rujukan bagi lembaga yang dijadikan lokasi penelitian untuk terus meningkatkan masalah motivasi belajar siswa.

E.     Lokasi dan Lama Penelitian
1.      Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian yang dijadikan objek penelitian adalah Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darul Huda Kecamatan Cibadak yang berlokasi di kampung Babakan desa Malabar kecamatan Cibadak kabupaten Lebak Provinsi Banten.MI Darul Huda sudah eksis cukup lama berdiri sejak tahun 1970 sampai dengan sekarang (tahun 2012) yang terus berkembang dengan status terakreditasi peringkat B.
Pemilihan lokasi tersebut berdasarkan pada :
1.      Penulis menjadi salah satu guru kelas dan mata pelajaran di MI darul Huda Cibadak.
2.      Untuk membantu menberikan pemecahan masalah bagi lembaga yang penulis jadikan objek penelitian sekaligus tempat penulis mengabdi.
3.      Untuk mempermudah penelitian dan menghemat waktu juga materi.
a.       Sejarah Singkat MI Darul Huda Cibadak
Madrasah Diniyah Ibtidaiyah Darul Huda di desa Malabar kecamatan Cibadak didirikan pada tanggal 10  Januari 1959 oleh seorang tokoh masyarakat kampung Babakan desa Malabar, yaitu Ust. Khutbi, dengan bangunan semi permanen yang hanya satu lokal, di isi oleh 60 orang siswa dan tiga orang guru yaitu Ust. Khutbi, Ustz. Rahmah, dan Ustz. Supena.
Sebelum menjadi Madrasah Diniyah (MI), mulanya adalah Madrasah Wajib Belajar (MWB), yang waktu belajarnya pada sore hari dengan kurikulum pendidikan agama Islam 50%, dan materi pelajaran umum 50%.
Beberapa tahun kemudian MWB pindah tempat ke kampung Keong, dikarenakan pendirinya pindah ke Menes Pandeglang, dan diteruskan oleh Ustz. Supena. Pada tahun 1970 MWB dijadikan MI Darul huda yang dibangun di atas tanah 800 m2  pinjaman dari Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) dengan status hak guna bangunan dengan memiliki bangunan semi permanen hasil swadaya masyarakat. Dalam menyelenggarakan pendidikan MI darul Huda memiliki Visi dan Misi sebagai berikut :
           Visi :
“Mencetak Putra Putri Bangsa Yang Amanah Berlandaskan Iman dan Taqwa”
           Misi :
1.      Melaksanakan Pendidikan yang berkualitas, mampu untuk bersaing menghadapi era globalisasi.
2.      Menyelenggarakan kegiatan pendidikan yang mampu mengoptimalkan potensi kemampuan yang sesuai dengan insan yang beriman dan bertaqwa.
3.      Membiasakan budaya hidup bersih dilingkungan madrasah dan dalam kehidupan sehari-hari.

b.      Keadaan Guru MI Darul Huda
Dari hasil penelitian dengan melakukan observasi langsung ke lokasi, penulis mendapatkan beberapa data objektif tentang keadaan Guru, keadaan siswa, keadaan sarana prasarana. Pada tahun ajaran 2011 / 2012,  untuk tenaga pengajar sebanyak 17 orang, 1 kepala sekolah, dan 1 orang TU. Untuk lebih jelasnya personalia MI Darul Huda dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 1
Personalia MI Darul Huda
Tahun Ajaran 2011 / 2012
No.
Nama Personalia
J K
Pendidikan
Jabatan
1
Ust. Sanusi Khutbi
L
PGAN
Ketua Yayasan
2
Ust. Masrik
L
PGAN
Ketua Komite
3
Nurhaedi, S.Ag
L
S.1
Kepala Madrasah
4
Abidin Jahmi, S.Pd.I
L
S.1
Bid. Kurikulum
5
Mastura, S.Pd.I
L
S.1
Guru Kelas IV
6
Nasihah, S.Pd.I
P
S.1
Guru Kelas V
7
Denti Efendi, S.Pd.I
P
S.1
Guru Kelas III
8
Ba’i Atiah, A.Ma
P
D.2
Guru Kelas II
9
Ajum Rois, S.Pd.I
L
S.1
Guru Kelas II
10
Siti Rohmawati, A.Ma
P
D.2
Guru Kelas I
11
Junariah, S.Pd.I
P
S.1
Guru Kelas II
12
Dewi Nuryanti, S.Pd.I
P
S.1
Guru Kelas I
13
Rd. Nenden, S.Pd
P
S.1
Guru Bidang Studi
14
Komarudin, S.Pd.I
L
S.1
Guru Bidang Studi
15
Syarif Hidayat, A.Ma
L
D.2
Guru Bidang Studi
16
Rd. Wawan K.
L
SMK
Guru Bidang Studi
17
Neneng M, A.Ma
P
D.2
Guru Kelas II
18
Oji Madroji, A.Ma
L
D.2
Guru Kelas III
19
Imas Siti Masitoh
P
MA
Guru Kelas I
20
Iis Siti Jaojah
P
MA
T.U
21
Heni Haryani
P
SMA
Guru Kelas I
                                                                 Dokumentasi TU MI Darul Huda 20012

c.       Keadaan Siswa MI Darul Huda
Keadaan siswa MI Darul Huda Cibadak, setiap tahunnya mengalami peningkatan jumlah siswa baru yang masuk sampai tahun ajaran 2011 / 2012 kemarin sebanyak 240 siswa dari kelas 1 sampai dengan kelas 6. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel II
Keadaan Siswa MI Darul Hidayah
Tahun Ajaran 2011 / 2012
KELAS
SISWA
LAKI-LAKI
SISWA PEREMPUAN
JUMLAH
1
32
36
68
2
21
18
39
3
19
22
41
4
12
13
25
5
23
21
44
6
9
14
23
JUMLAH :
116
124
240
                                                     Dokumentasi TU MI Darul Huda 20012
d.      Keadaan Sarana dan Prasarana
Dalam menyelenggarakan pendidikan sampai tahun 2012 sekarang, MI Darul Huda terus melakukan penambahan sarana dan juga prasarana pendidikan agar berjalan lancar sesuai harapan, adapun bangunan kelas dananya diperoleh dari bantuan pemerintah dan hasil swadaya masyarakat, sedangkan untuk pengadaan sarana pendidikan dana yang diambil dari bantuan oprasional sekolah (BOS) dari pemerintah. Untuk data kongkritnya,dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel III
Keadaan Sarana dan Prasarana
MI Darul Hidayah Cibadak
No
Sarana Prasarana
Volume
Keadaan
1
Ruang Kepala Madrasah
1 Ruang
Baik
2
Ruang Guru
1 Ruang
Baik
3
Ruang Tata Usaha
1 Ruang
Baik
4
Ruang Belajar / Kelas
6 Ruang
Baik
5
Ruang Perpustakaan
1 Lokal
Baik
6
Mushola
1 Lokal
Baik
7
Kamar Kecil / WC Guru
1 Lokal
Baik
8
Kamar Kecil / WC Siswa
2 Lokal
Baik
9
Lapangan Upacara
1 Lokal
Baik
10
Meja Kursi Guru
17 Buah
Baik
11
Meja Kursi Siswa :
a.       Meja
b.      Kursi

130 buah
245 buah

Baik
Baik
12
Peralatan KBM
29 buah
Baik
13
Peralatan Olah Raga
12 buah
Baik
14
Peralatan Pramuka
9 buah
Baik
15
Buku Paket & Bacaan
Perpustakaan
532 eks.
Baik
                                                     Dokumentasi TU MI Darul Huda 20012

2.      Waktu Penelitian
Waktu penelitian yang akan penulis gunakan kurang lebih selama 5 Bulan, yang dimulai awal  bulanMei 2012 sampai dengan bulan September 2012. Dengan rincian kegiatan penelitian sebagai berikut :

BAB II
MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR


A.      Motivasi Belajar
1.      Pengertian Motivasi
Motivasi berasal dari kata Latin “movere” yang berarti dorongan atau menggerakkan. Motivasi sangat diperlukan dalam pelaksanaan aktivitas manusia karena motivasi merupakan hal yang dapat menyebabkan, menyalurkan dan mendukung perilaku manusia supaya mau bekerja giat dan antusias untuk mencapai hasil yang optimal.

Sardiman (2005:73) menyatakan bahwa motivasi adalah daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Berawal dari kata motif tersebut, maka motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif. Motif menjadi aktif pada saat-saat tertentu, terutama bila kebutuhan untuk mencapai tujuan sangat dirasakan atau mendesak.

Menurut W.S Winkel yang dikutip oleh Max Darsono (2000:61), motif adalah daya penggerak didalam diri orang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu, jadi motif itu merupakan suatu kondisi internal artinya bahwa motif adalah kesiapsiagaan dalam diri seseorang. Motivasi diartikan sebagai motif yang sudah menjadi aktif pada saat melakukan suatu perbuatan, sedangkan motif sudah ada dalam diri seseorang jauh sebelum orang itu melakukan suatu perbuatan.


Text Box: 13Motivasi menggerakkan organisme mengarahkan tindakan serta memilih tujuan belajar yang dirasa berguna bagi kehidupan individu. Motivasi mendorong individu untuk berbuat sesuatu, tetapi motivasi tersebut tidak dapat diamati secara langsung. Yang dapat diamati secara langsung adalah manifestasi dari motivasi itu dalam bentuk tingkah laku dan sikap. Dengan mempelajari motivasi maka akan ditemukan mengapa individu berbuat sesuatu setidaknya akan mendekati kebenaran apa yang menjadi motivasi individu yang bersangkutan. Itu sebabnya Darsono mendefinisikan bahwa Motivasi adalah keadaan individu yang terangsang dan terjadi jika suatu motif telah dihubungkan dengan suatu pengharapan yang sesuai (2000:63). Dari definisi ini terlihat bahwa motivasi dapat muncul dari diri individu apabila ada rangsangan dan dihubungkan dengan suatu pengharapan yang sesuai dalam arti lain adalah tujuan yang ingin dicapai oleh individu.
Seseorang dikatakan berhasil dalam belajar apabila didalam dirinya sendiri ada keinginan untuk belajar, sebab tanpa mengerti apa yang akan dipelajari dan tidak memahami mengapa hal tersebut perlu dipelajari, maka kegiatan belajar mengajar sulit untuk mencapai keberhasilan. Keinginan atau dorongan inilah yang disebut sebagai motivasi.
Dengan motivasi orang akan terdorong untuk bekerja mencapai sasaran dan tujuannya karena yakin dan sadar akan kebaikan, kepentingan dan manfaatnya. Bagi siswa motivasi ini sangat penting karena dapat menggerakkan perilaku siswa kearah yang positif sehingga mampu menghadapi segala tuntutan, kesulitan serta menanggung resiko dalam belajarnya.
Dari beberapa uraian diatas, maka motivasi dapat diartikan sebagai suatu usaha yang ada dalam diri individu yang berupa sikap, tindakan dan dorongan untuk bertindak dalam mengarahkan serta menggerakkan individu pada suatu tingkah laku sehingga tujuan yang dikehendaki tercapai. Memberikan motivasi kepada siswa berarti menggerakkan siswa untuk melakukan sesuatu.
Pada tahap awal akan menyebabkan siswa merasa ada kebutuhan dan ingin melakukan suatu kegiatan belajar. Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa motivasi akan selalu berkaitan dengan soal kebutuhan. Seorang anak akan terdorong untuk melakukan sesuatu bila merasa suatu kebutuhan itu penting bagi dirinya. Kebutuhan ini menimbulkan keadaan tidak seimbang, rasa ketegangan yang meminta pemuasan agar kembali kepada keadaan seimbang yaitu rasa kepuasan dalam diri.
Dalam kaitannya dengan belajar, motivasi sangat erat hubungannya dengan kebutuhan aktualisasi diri sehingga motivasi paling besar pengaruhnya pada kegiatan belajar siswa yang bertujuan untuk mencapai prestasi tinggi. Apabila tidak ada motivasi belajar dalam diri siswa, maka akan menimbulkan rasa malas untuk belajar baik dalam mengikuti proses belajar mengajar maupun mengerjakan tugas-tugas individu dari guru. Orang yang mempunyai motivasi yang tinggi dalam belajar maka akan timbul minat yang besar dalam mengerjakan tugas, membangun sikap dan kebiasaan belajar yang sehat melalui penyusunan jadwal belajar dan melaksanakannya dengan tekun.
2. Macam-macam Motivasi
Dilihat dari berbagai sudut pandang, para ahli psikologi berusaha untuk menggolongkan motif-motif yang ada pada manusia atau suatu organisme kedalam beberapa golongan menurut pendapatnya masing-masing.
Diantaranya menurut Ngalim Purwanto, motif itu ada tiga golongan yaitu :
1. Kebutuhan-kebutuhan organis yakni, motif-motif yang berhubungan dengan kebutuhan-kebutuhan bagian dalam dari tubuh seperti : lapar, haus, kebutuhan bergerak, beristirahat atau tidur, dan sebagainya.
2. Motif-motif yang timbul yang timbul sekonyong-konyong (emergency motives) inilah motif yang timbul bukan karena kemauan individu tetapi karena ada rangsangan dari luar, contoh : motif melarikan diri dari bahaya,motif berusaha mengatasi suatu rintangan.
3. Motif Obyektif yaitu motif yang diarahkan atau ditujukan ke suatu objek atau tujuan tertentu di sekitar kita, timbul karena adanya dorongan dari dalam diri kita.

Selanjutnya motif-motif itu dibagi menjadi dua golongan sebagai berikut :
1.  Psychological drive adalah dorongan-dorongan yang bersifat fisiologis atau jasmaniah seperti lapar, haus dan sebagainya.
2.  Sosial Motives adalah dorongan-dorongan yang ada hubungannya dengan manusia lain dalam masyarakat seperti : dorongan selalu ingin berbuat baik (etika) dan sebagainya.
Adapun bentuk motivasi belajar di Sekolah dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
1. Motivasi Intrinsik
Motivasi intrinsik adalah hal dan keadaan yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang dapat mendorong melakukan tindakan belajar.
Dalam buku lain motivasi intrinsik adalah motivasi yang timbul dari dalam diri seseorang atau motivasi yang erat hubungannya dengan tujuan belajar, misalnya : ingin memahami suatu konsep, ingin memperoleh pengetahuan dan sebagainya.
Faktor-faktor yang dapat menimbulkan motivasi intrinsik adalah:
a)    Adanya kebutuhan
b)    Adanya pengetahuan tentang kemajuan dirinya sendiri
c)    Adanya cita-cita atau aspirasi.

2. Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah hal atau keadaan yang datang dari luar individu siswa, yang mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar.
Bentuk motivasi ekstrinsik ini merupakan suatu dorongan yang tidak secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar, misalnya siswa rajin belajar untuk memperoleh hadiah yang telah dijanjikan oleh orang tuanya, pujian dan hadiah, peraturan atau tata tertib sekolah, suri tauladan orang tua, guru dan lain-lain merupakan contoh konkrit dari motivasi ekstrinsik yang dapat mendorong siswa untuk belajar. (Muhibbinsyah, 2002:136)


Dalam perspektif kognitif, motivasi intrinsik lebih signifikan bagi siswa karena lebih murni dan langgeng serta tidak bergantung pada dorongan atau pengaruh orang lain.
Perlu ditegaskan, bukan berarti motivasi ekstrinsik tidak baik dan tidak penting. Dalam kegiatan belajar mengajar tetap penting, karena kemungkinan besar keadaan siswa itu dinamis berubah-ubah dan juga mungkin komponen-komponen lain dalam proses belajar mengajar ada yang kurang menarik bagi siswa sehingga siswa tidak bersemangat dalam melakukan proses belajar mengajar baik di sekolah maupun di rumah. Bahwa setiap siswa tidak sama tingkat motivasi belajarnya, maka motivasi ekstrinsik sangat diperlukan dan dapat diberikan secara tepat.

3.      Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Belajar
Menurut Max Darsono (2000:65), ada beberapa faktor yang mempengaruhi motivasi belajar, yaitu:
1.  Cita-cita.
Cita-cita adalah sesuatu target yang ingin dicapai. Target ini diartikan sebagai tujuan yang ditetapkan dalam suatu kegiatan yang mengandung makna bagi seseorang. Munculnya cita-cita seseorang disertai dengan perkembangan akar, moral kemauan, bahasa dan nilai-nilai kehidupan yang juga menimbulkan adanya perkembangan kepribadian.
2. Kemampuan belajar.
Setiap siswa memiliki kemampuan belajar yang berbeda. Hal ini diukur melalui taraf perkembangan berpikir siswa, dimana siswa yang taraf perkembangan berpikirnya konkrit tidak sama dengan siswa yang sudah sampai pada taraf perkembangan berpikir rasional. Siswa yang merasa dirinya memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu, maka akan mendorong dirinya berbuat sesuatu untuk dapat mewujudkan tujuan yang ingin diperolehnya dan sebaliknya yang merasa tidak mampu akan merasa malas untuk berbuat sesuatu.
3.     Kondisi siswa.
Kondisi siswa dapat diketahui dari kondisi fisik dan kondisi psikologis, karena siswa adalah makhluk yang terdiri dari kesatuan psikofisik. Kondisi fisik siswa lebih cepat diketahui daripad kondisi psikologis. Hal ini dikarenakan kondisi fisik lebih jelas menunjukkan gejalanya dari pada kondisi psikologis.
4.     Kondisi lingkungan.
Kondisi lingkungan merupakan unsur yang datang dari luar diri siswa yaitu lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Lingkungan fisik sekolah, sarana dan prasarana perlu ditata dan dikelola agar dapat menyenangkan dan membuat siswa merasa nyaman untuk belajar. Kebutuhan emosional psikologis juga perlu mendapat perhatian, misalnya kebutuhan rasa aman, berprestasi, dihargai, diakui yang harus dipenuhi agar motivasi belajar timbul dan dapat dipertahankan.
5.     Unsur-unsur dinamis dalam belajar.
Unsur-unsur dinamis adalah unsur-unsur yang keberadaannya didalam proses belajar tidak stabil, kadang-kadang kuat, kadang-kadang lemah dan bahkan hilang sama sekali misalnya gairah belajar, emosi siswa dan lain-lain. Siswa memiliki perasaan, perhatian, kemauan, ingatan, dan pikiran yang mengalami perubahan selama proses belajar, kadang-kadang kuat atau lemah.
6.     Upaya guru membelajarkan siswa.
Upaya guru membelajarkan siswa adalah usaha guru dalam mempersiapkan diri untuk membelajarkan siswa mulai dari penguasaan materi, cara menyampaikannya, menarik perhatian siswa dan mengevaluasi hasil belajar siswa. Bila upaya guru hanya sekedar mengajar, artinya keberhasilan guru yang menjadi titik tolak, besar kemungkinan siswa tidak tertarik untuk belajar sehingga motivasi belajar siswa menjadi melemah atau hilang.
Setiap motivasi berkaitan dengan suatu tujuan. Siswa termotivasi untuk belajar karena ingin mencapai prestasi yang tinggi dan juga untuk mewujudkan cita-citanya. Sehubungan dengan hal tersebut, motivasi mempunyai tiga fungsi yaitu:
1. Mendorong manusia untuk berbuat. Motivasi merupakan suatu motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
2.  Menentukan arah perbuatan yaitu kearah tujuan yang hendak dicapai. Motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.
3.  Menyeleksi perbuatan. Menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan untuk mencapai tujuan dengan cara menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan yang akan dicapai (Sardiman, 2005:85)

Dengan mengetahui tujuan dari motivasi belajar, siswa diharapkan dapat motivasi yang tinggi untuk lebih tekun dalam belajarnya, penuh perhatian dan penuh konsentrasi dalam belajar sehingga tujuan yang diharapkan dapat terwujud terutama untuk tujuan jangka pendek yaitu prestasi belajar.
Dari berbagai uraian di atas dapat penulis simpulkan bahwa motivasi belajar merupakan suatu keadaan yang mendorong siswa untuk melakukan aktivitas belajar yang sangat diperlukan siswa untuk meningkatkan prestasi dalam rangka mewujudkan cita-citanya.

4.      Indikator Motivasi Belajar
Dalam menentukan indikator penelitian variabel Motivasi Belajar, bertitik tolak dari uraian di atas bahwa motivasi belajar siswa dipengaruhi dari seberapa besar semangat dan kesungguhan siswa dalam belajarnya baik saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas, maupun saat belajar sendiri dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru, termasuk sikap-sikap siswa yang menunjukan kekuatan motivasi belajarnya. Maka penulis menghimpun untuk ranah yang menjadi indikator variabel motivasi belajar meliputi : 1. Kedisiplinan dalam belajar, 2. Memiliki Antusias / Semangat belajar, 3. Kemampuan mengerjakan tugas, 4. Kemampuan bekerja sama dengan kelompok.  Dari ke empat indikator tersebut mewakili penilaian untuk mengukur kekuatan motivasi belajar yang dimiliki oleh siswa selama mengikuti kegiatan belajar di sekolah.

B.       Prestasi Mata Pelajaran Aqidah Akhlak
1.      Pengertian Prestasi 
Prestasi adalah suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan baik secara individual atau kelompok. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang dimaksud  dengan  prestasi  adalah  hasil  yang  telah  dicapai  (dilakukan, dikerjakan  dan  sebagainya).
  Sedangkan  menurut Saiful  Bahri  Djamarah  dalam bukunya Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru, menyatakan bahwa prestasi adalah apa yang telah dapat diciptakan, hasil pekerjaan, hasil yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja. Dalam buku yang sama Nasrun Harahap, berpendapat bahwa prestasi adalah "penilaian pendidikan tentang perkembangan dan kemajuan siswa berkenaan dengan penguasaan bahan pelajaran yang disajikan kepada siswa.