Sejarah Singkat
Yayasan Pondok Pesantren Fathurrobbaaniy Rangkasbitung
(Penetrasi
dari Perguruan Silambawiqri) (*
Oleh : Agus Tarunajaya, S.PdI (**
Ketika ada pertanyaan Ayam dulu atau Telur dulu, maka sejarah Pondok Pesantren (ponpes) Fathurrobbaaniy tidak
lepas dari Perguruan Silambawiqri (Silat Tenaga dalam Batin Wiqoyah Riayah) yang
menelurkan ide untuk berdirinya Ponpes Fathurrobbaniy sebagai lembaga dakwah,
pendidikan, yang merupakan penetrasi dari pendekatan Silambawiqri dibidang Wiqoyah (pendidikan).
1.Sejarah Singkat Perguruan
Silambawiqri
Perguruan Silambawiqri didirikan oleh Asyeikh KH. Drs. Ach.
Fathoni Karim(Roisul Ma’had)pada tanggal 29 Agustus 1993 M / 12
Rabiul awal 1414 H, di kampung Palaton Jaura, Rangkasbitung. Jauh sebelum
berdiri secara resmi sebagai perguruan silat, praktek kaderisasi Silambawiqri
sudah berjalan sewaktu Asyeikh masih menempuh pendidikan di Ponpes Tebu Ireng
Jombang Jawa Timur. Hingga kembali ke kota Rangkasbitung, anggota Silambawiqri
semakin banyak dan terus bertambah dari tingkat pelajar, pemuda dan mahasiswa,
sampai akhirnya dideklarasikan sebagai Perguruan Silat Tenaga dalam Batin Wiqoyah Riayah;
Silambawiqri.
Untuk
merealisasikan dan mengembangkan cita-cita perguruan Silambawiqri, maka menjadi
keniscayaan untuk mendirikan 3 (tiga) buah lembaga yang menjadi pilar
perguruan, yaitu :
1.Lembaga pelatihan Silat tenaga dalam bathin (Silamba) semisal sebuah
Padepokan, atau seperti IPS NU Pagar Nusa.
2.Lembaga Pendidikan (Wiqoyah), seperti pondok pesantren dan madrasah atau
perguruan tinggi.
3.Lembaga Organisasi (Riayah), semisal Nahdlatul Ulama (NU) dsj.
Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, maka Asyeikh beserta
beberapa murid anggota PSWR hijrah dari Palaton ke Hutan Cisalam, yang kemudian
diberi nama Kampung Sawah Salam sampai sekarang, untuk mendirikan Pondok
Pesantren dan Madrasah yang diberi nama Fathurrobbaniy.
2.Yayasan Pondok Pesantren Fathurrobbaaniy (YPPF)
Pondok Pesantren Fathurrobbaaniy berdiri pada tanggal 20 Agustus 1994 /12 Rabiul awal 1415 Hdiatas tanah 2000 M2 di
Kp. Sawahsalam Kel. Cijoropasir Kec. Rangkasbitung Kabupaten Lebak Provinsi banten. Pondok
ini didirikan oleh KH. Drs. Ach.
Fathoni Karimatas saran beberapa Ulama
sepuh Lebak. Dimulai dari pengajian Al-Qur’an dan Pelatihan Silambawiqri (
Silat Tenaga dalam Batin Wiqoyah Riayah), pesantren ini mendapat respon dari
masyarakat sehingga pada tahun 1996 mendaftarkan dirisebagaiYayasanyang sah berbadan Hukumdengan
akta Notaris No.01,
tanggal 7 Pebruari 1996.
Nama “Fathurrobbaaniy” diambil dari nama
salah satu kitab Akhlak Tasawuf ; wejangan Syeikh Abdul Qodir Jaelani
al-Bagdadi (dari Irak, keturunan dari Nabi SAW ke – 9, Ayah dari keturunan
Hasan bin Ali RA, ibu dari keturunan Husen bin Ali RA). Itu sebabnya, pesantren
Fathurrobbaniy dalam pendidikannya berkonsentrasi pada kajian & kaderisasi
Akhlak Tasawuf, Pesantren akhlak tasawuf, santri yang memiliki disiplin ilmu
dan berkarakter akhlak tasawuf.
Berdasarkan keinginan dan
kebutuhan masyarakat serta perkembangan dunia pendidikan di era Globalisasi, Pada tanggal 17 juli 1997, YPPF melegitimasi sebagai “Pondok
Trendsalafy Pascamodern”, pondok pesantren alternatif, yang memadukan dua
sistem, budaya, karakter, dari generasi
salafy (generasi ke 1 – 3 setelah Nabi SAW wafat, jadi bukan adopsi
pesantren salafi tradisional yang ada di Indonesia) dan generasi “masa depan” Pascamodern (yang berorientasi pada
perubahan, perbaikan untuk masa depan, salah satunya mempersiapkan bekal untuk
akhirat. Jadi bukan adopsi pesantren modern yang ada di Indonesia sekarang,
yang sebenarnya sudah kadaluarsa, karena modernisasi sampai abad ke-20,
sedangkan sekarang sudah di abad ke 21). Maka dibukalah pendidikan formal untuk tingkat : 1. Madrasah
Tsanawiyah (MTs)2. Madrasah Aliyah (MA) dan 3. Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA). Hingga Saat
ini pesantren dan sekolah terus berkembang pesat, baik dari infrastruktur, bangunan yang berdiri diatas tanah seluas 5 Ha(hektar), sebagai hak milikyayasan dan sebagaian lagi hasil wakafyang
sudah bersertifikat.
Seperti yang sudah
di jelaskan di atas, Sistem
pendidikan yang dikembangkan di yayasan Pondok Pesantren Fathurrobbaaniy adalah
gabungan antara salafy murni dan pascamodern. Santri disamping mengikuti pengajian kitab
kuningdengan metode halaqoh juga mendapat pola pendidikan classikal (Kelas) ciri khas modern. Dalam Penerapannya menggunakan sejumlah pendekatan kontemporer seperti Intelegency
Quotient, Emotional Quotient, dan spirituality Quotient. Misalnya
siswadiperbolehkan mengatur bentuk rupa
kelas sesuai denganrasa kenyamanan
masing-masing. Siswa juga diberi keleluasaan mengatur administrasi kelas, dan kaderisasi SDM yang madiri
dengan kegiatan pertanian serta JamSih. Melalui cara ini siswa memiliki peluanguntuk mendapatkan perkembangan Emotional
Quotient dan Sosial Comitment.
Disamping itu siswa wajib mengikuti
ekstrakurukuler Silat Tenaga dalam Batin Wiqoyah Riayah SILAMBAWIQRI, Pramuka, Muhadhoroh, Marching
Band, Seni Budaya Hadroh, mading, dll. dan kegiatan Ektra Silambawiqri pada tahun 2005 menghasilkanJuara I (medali emas bagi santri putera)
Pencaksilat dan Juara II (medali perak) untuk santri puteri pada kegiatan Pospenas di Medan.
Semenjak berdiri,YPP Fathurrobbaaniy cuma memiliki santri 15 orang
santri kemudian setelah tujuh tahun (2005) mengalami perkembangan sampai 230 orang.Jumlah alumni dari tahun 1999 (angkatan pertama) hingga
sekarang, angkatan ke-13 tahun 2012 kurang lebih ada 521 orang yang telah tetrsebar di pelbagai Perguruan
Tinggi.
Dalam rangka
mensukseskan sistem pendidikan di pesantren Fathurrobbaniy, Seluruh Santri WAJIB mengikuti Proses
Belajar Mengajar (PBM) di dalam Kelas atau Masjid, mengikuti Pengajian,
disiplin berbahasa
Arab & Inggris, shalat berjama’ah, bergaya hidup Qona’ah dan Mandiri, serta
mentaati segala peraturan yang ada di pesantren, baik yang mengikat, maupun
yang tidak seperti bersikap akhlaki dalam ubudiyah maupun sosial. Santri
Fathurrobbaniy dalam aktifitasnya mendapat bimbingan dan diasuh oleh 23 orang Guru pengajar dan 4 orang karyawan administrasi.
Demikian sejarah singkat YPP Fathurrobbaaniy, yang sebenarnya masih banyak
fase-fase perubahan belum terilustrasi di sini, mudah-mudahan tulisan ini
sedikit mewakili memberi gambaran umum tentang ponpes Fathurrobbaaniy kepada
santri baru, umumnya seluruh elemen pondok yang ada untuk kembali memposisikan
diri sebagai generasi Arrobbaaniy
(kekasih Allah yang sempurna ilmu, iman, dan ketaqwaannya). Semoga.
(*Judul Materi yang disampaikan
pada kegiatan Orientasi & Pengenalan Ma’had (KOLAM), Tgl.12 Juli 2012
(**Alumni Santri Fathurrobbaaniy
angkatan ke 1, dan Guru Bidang Studi di MTs & MA Fathurrobbaniy
Selasa, 10 Juli 2012
BAB. I
PENDAHULUAN
A.Latar
Belakang Masalah
Pendidikan adalah suatu usaha sadar
untuk menyiapkan peserta didik dalam peranannya di dalam masyarakat, pada masa
yang akan datang baik sebagai individu maupun sebagai anggota
masyarakat.Pendidikan sangat penting dalam kehidupan yang sifatnya mutlak, termasuk
dalam kehidupan dari suatu bangsa dan negara.Melalui pendidikan yang diupayakan
suatu bangsa atau negara dapat mencapai cita-cita dan tujuan hidupnya sesuai
dengan falsafah dan pandangan hidup Negara.
Sebagaimana tercantum dalam Undang – Undang No. 20 Tahun 2003 tentang sistem
pendidikan nasional yang menyatakan bahwa tujuan Pendidikan Nasional adalah
untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggungjawab.
Pendidikan
akan berhasil apabila dikelola dengan cara yang baik. begitu pula kaitannya
dengan proses belajar mengajar akan berhasil jika terdapat motivasi yang tinggi
pada peserta didik. Motivasi akan mendasari keberhasilan belajar peserta
didik.Banyak dijumpai anak yang berhasil dalam studinya, ada yang berprestasi
tinggi (baik) ada yang sedang-sedang saja, bahkan ada yang gagal atau
berprestasi rendah.
Dalam kenyataannya motivasi setiap
siswa dalam belajar berbeda satu sama lain. Ada yang rajin belajar karena
memang mempunyai motivasi ingin menuntut ilmu, ada pula siswa yang belajar
karena mempunyai motivasi sekedar mendapat nilai yang bagus atau lulus ujian.
Dalam kegiatan belajar, motivasi
memegang peranan penting, yaitu sebagai pendorong siswa dan merupakan syarat
mutlak dalam belajar.Di sekolah, sering terdapat anak yang malas, tidak
menyenangkan, suka membolos dan lain sebagainya.Dalam masalah demikian, berarti
bahwa guru tidak berhasil memberikan motivasi yang tepat untuk mendorong
anak-anak, agar mereka bekerja dengan segenap tenaga dan pikirannya.Sedangkan
intensitas belajar siswa sudah barang tentu dipengaruhi oleh motivasi. Siswa
yang ingin mengetahui sesuatu dari apa yang dipelajari adalah sebagai tujuan
yang ingin siswa capai selama belajar, karena siswa mempunyai tujuan ingin
mengetahui sesuatu itulah akhirnya siswa terdorong untuk mempelajarinya.Hampir
seluruh akivitas belajar siswa adalah untuk mendapatkan prestasi belajar yang
baik.Setiap siswa pasti tidak ingin memperoleh prestasi belajar yang jelek.Oleh
karena itu setiap siswa berlomba-lomba untuk mencapai dengan suatu usaha yang
dilakukan seoptimal mungkin.Dalam hal yang demikian maka prestasi belajar bisa
dikatakan sebagai kebutuhan yang memunculkan motivasi dari dalam diri siswa
untuk selalu belajar.
Salah satu bentuk keberhasilan
belajar siswa adalah dilambangkan dengan angka atau nilai sebagai indek
prestasi.Angka atau nilai adalah simbol dari keberhasilan kegiatan belajar.
Dengan demikian maka, antara nilai dan motivasi tidak dapat dipisahkan dan
saling terkait, sebab intensitas motivasi akan menentukan tingkat pencapaian
prestasi belajar siswa.
Karenanya,bilasiswamengalamikegagalandalambelajar,halini bukanlahsemata-matakesalahansiswa,tetapi mungkinsajagurutidakberhasil dalam membangkitkan motivasi siswa.
Perhatiansiswaterhadapstimulusbelajardapatdiwujudkanmelalui beberapacarasepertipenggunaanmediapengajaranataualat-alatperaga, memberikanpertanyaankepadasiswa,membuatvariasibelajarpadasiswa, melakukanpengulanganinformasiyangberbedadengancarasebelumnya, memberikan stimulus belajar dalam
bentuklain sehingga siswa tidak bosan.
Ada beberapa cara pemberian motivasi yang
digunakan guru terhadap siswa dalam
kegiatan belajar agar siswa tidakmerasabosan,seperti:memberikanhadiah,pujian,gerakantubuh, memberikan angka
atau penilaian, memberikan tugas dan hukuman. Motivasiyangkuatdalamdirisiswaakan meningkatkan
minat,kemauan dansemangatyangtinggidalambelajar.Dalam kegiatan belajar, maka motivasi menimbulkan kegiatan
belajar, menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar, sehingga tujuan yang
dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai.Dapat dikatakan bahwa tingginyamotivasisiswa dalambelajarmemiliki hubungan yang kuat terhadap tingginyaprestasibelajar.Karena motivasi
merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi belajardan Hasil belajar.
Seorang siswa yang memiliki motivasi mempunyai kecenderungan untuk mencurahkan
segala kemampuannya untuk mendapatkan hasil belajar yang optimal sesuai dengan
tujuan yang diharapkan. Semakin tinggi motivasi yang dimiliki siswa akan
mendorong siswa bela jar lebih giat lagi dan frekuensi belajarnya menjadi
semakin meningkat,sehingga hasil belajarnyapun meningkat. Akan tetapi, kuat dan
lemahnya motivasi setiap orang berbeda, hal itu dipengaruhi oleh faktor
cita-cita atau aspirasi, kemampuan belajar, kondisi siswa, kondisi lingkungan
siswa, unsur-unsur dinamis dalam belajar dan upaya guru dalam kegiatan belajar mengajar di dalam kelas.
Dari
pantauan penulis untuk observasi awal di lokasi penelitian yaitu MI Darul Huda
Cibadak, didapati siswa kurang memiliki semangat untuk lebih konsentrasi pada
pelajaran yang sedang berlangsung, kadang bersikap cuek dan malas-malasan atau
mengantuk dan tidur-tiduran di kelas, ada juga yang bersenda gurau disaat guru
sedang menjelaskan materi pelajarandi
dalam kelas. Bahkan ada sebagian
siswa yang suka bolos pada jam pelajaran ke tiga atau terakhir, sehinga pada
saat tes ulangan harian atau berkala, nilai prestasi mereka menurun. Sedangkan dalam evaluasihasil belajar siswa terutama untuk mata pelajaran Aqidah Akhlak, selain
nilai kognitif, juga mempertimbangkan nilai kepribadian (afektif) atau akhlak siswa yang ternyata dalam
aktivitas belajarnya mengalami
penurunan, atau tidak sesuai dengan nilai kognitif
mereka.
Berdasarkan
permasalahan diatas, penulis tertarik untuk mencari gambaran yang kongkrit dan
akurat di lokasi penelitian dalam bentuk skripsi yang berjudul : “MOTIVASI BELAJAR
SISWA HUBUNGANNYA DENGAN PRESTASI MATA PELAJARAN AQIDAH AKHLAK”(Penelitian di M
IDarul HudaCibadak).
B.Perumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas,
penulis merumuskan masalah penelitiannya sebagai berikut :
1.Bagaimana
motivasi belajar siswa dalam mengikuti pelajaran Aqidah Akhlak di M IDarul HudaCibadak?
2.Bagaimana
prestasi siswa pada mata pelajaran Aqidah Akhlak di M IDarul HudaCibadak?
3.Apakah
terdapat hubungan antara motivasi belajar siswa dengan prestasi mata pelajaran
Aqidah Akhlak di M IDarul HudaCibadak?
C.Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah, maka secara
khusus yang menjadi tujuan penelitiannyayaitu :
1.Untuk
mengetahui kekuatan motivasi belajar siswa pada saat mengikuti kegiatan belajar
mengajar di MI Darul Huda Cibadak
2.Untuk
mengetahuiprestasi siswa pada mata pelajaran Aqidah Akhlak di MI Darul Huda
Cibadak
3.Untuk
mengetahui seberapa besar hubungan antaramotivasi belajar siswadenganprestasi
mata pelajaran Aqidah Akhlak di MI Darul Huda Cibadak.
D.Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini
diharapkan dapat memberi manfaat dan kegunaan sebagai berikut :
1.Secara
Teoritis
Penelitian
ini menjadi input ilmu pengetahuan dan pengalaman berharga bagi penulis untuk
menambah wawasan empiris tentang urgensi motivasi belajar dan tentang prestasi
mata pelajaran Aqidah Akhlak yang harus terus ditingkatkan efektifitasnya.
2.Secara
Praktis
Penelitian
ini diharapkan dapat memberi kontribusi positif bagi praktisi pendidikan yang
hendak meneliti lebih lanjut tentang motivasi belajar dan tentang prestasi belajar,
juga menjadi rujukan bagi lembaga yang dijadikan lokasi penelitian untuk terus
meningkatkan masalah motivasi belajar siswa.
E.Lokasi dan Lama Penelitian
1.Lokasi
Penelitian
Lokasi penelitian yang dijadikan objek penelitian adalah Madrasah
Ibtidaiyah (MI) Darul Huda Kecamatan Cibadak yang berlokasi di kampung Babakan
desa Malabar kecamatan Cibadak kabupaten Lebak Provinsi Banten.MI Darul Huda
sudah eksis cukup lama berdiri sejak tahun 1970 sampai dengan sekarang (tahun
2012) yang terus berkembang dengan status terakreditasi peringkat B.
Pemilihan lokasi
tersebut berdasarkan pada :
1.Penulis menjadi
salah satu guru kelas dan mata pelajaran di MI darul Huda Cibadak.
2.Untuk
membantu menberikan pemecahan masalah bagi lembaga yang penulis jadikan objek
penelitian sekaligus tempat penulis mengabdi.
3.Untuk
mempermudah penelitian dan menghemat waktu juga materi.
a.Sejarah
Singkat MI Darul Huda Cibadak
Madrasah Diniyah Ibtidaiyah Darul Huda di desa Malabar
kecamatan Cibadak didirikan pada tanggal 10Januari 1959 oleh seorang tokoh masyarakat kampung Babakan desa Malabar,
yaitu Ust. Khutbi, dengan bangunan semi permanen yang hanya satu lokal, di isi
oleh 60 orang siswa dan tiga orang guru yaitu Ust. Khutbi, Ustz. Rahmah, dan
Ustz. Supena.
Sebelum
menjadi Madrasah Diniyah (MI), mulanya adalah Madrasah Wajib Belajar (MWB),
yang waktu belajarnya pada sore hari dengan kurikulum pendidikan agama Islam
50%, dan materi pelajaran umum 50%.
Beberapa tahun kemudian MWB pindah tempat ke kampung
Keong, dikarenakan pendirinya pindah ke Menes Pandeglang, dan diteruskan oleh
Ustz. Supena. Pada tahun 1970 MWB dijadikan MI Darul huda yang dibangun di atas
tanah 800 m2 pinjaman dari Perusahaan Jawatan
Kereta Api (PJKA) dengan status hak guna bangunan dengan memiliki bangunan semi
permanen hasil swadaya masyarakat. Dalam menyelenggarakan pendidikan MI darul
Huda memiliki Visi dan Misi sebagai berikut :
Visi
:
“Mencetak
Putra Putri Bangsa Yang Amanah Berlandaskan Iman dan Taqwa”
Misi
:
1.Melaksanakan
Pendidikan yang berkualitas, mampu untuk bersaing menghadapi era globalisasi.
2.Menyelenggarakan
kegiatan pendidikan yang mampu mengoptimalkan potensi kemampuan yang sesuai
dengan insan yang beriman dan bertaqwa.
3.Membiasakan
budaya hidup bersih dilingkungan madrasah dan dalam kehidupan sehari-hari.
b.Keadaan
Guru MI Darul Huda
Dari hasil penelitian dengan melakukan observasi langsung
ke lokasi, penulis mendapatkan beberapa data objektif tentang keadaan Guru,
keadaan siswa, keadaan sarana prasarana. Pada tahun ajaran 2011 / 2012, untuk tenaga pengajar sebanyak 17 orang, 1
kepala sekolah, dan 1 orang TU. Untuk lebih jelasnya personalia MI Darul Huda
dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 1
Personalia MI Darul Huda
Tahun Ajaran 2011 / 2012
No.
Nama Personalia
J K
Pendidikan
Jabatan
1
Ust.
Sanusi Khutbi
L
PGAN
Ketua Yayasan
2
Ust.
Masrik
L
PGAN
Ketua Komite
3
Nurhaedi,
S.Ag
L
S.1
Kepala Madrasah
4
Abidin
Jahmi, S.Pd.I
L
S.1
Bid. Kurikulum
5
Mastura,
S.Pd.I
L
S.1
Guru Kelas IV
6
Nasihah,
S.Pd.I
P
S.1
Guru Kelas V
7
Denti
Efendi, S.Pd.I
P
S.1
Guru Kelas III
8
Ba’i
Atiah, A.Ma
P
D.2
Guru Kelas II
9
Ajum
Rois, S.Pd.I
L
S.1
Guru Kelas II
10
Siti
Rohmawati, A.Ma
P
D.2
Guru Kelas I
11
Junariah,
S.Pd.I
P
S.1
Guru Kelas II
12
Dewi
Nuryanti, S.Pd.I
P
S.1
Guru Kelas I
13
Rd.
Nenden, S.Pd
P
S.1
Guru Bidang Studi
14
Komarudin,
S.Pd.I
L
S.1
Guru Bidang Studi
15
Syarif
Hidayat, A.Ma
L
D.2
Guru Bidang Studi
16
Rd.
Wawan K.
L
SMK
Guru Bidang Studi
17
Neneng
M, A.Ma
P
D.2
Guru Kelas II
18
Oji
Madroji, A.Ma
L
D.2
Guru Kelas III
19
Imas
Siti Masitoh
P
MA
Guru Kelas I
20
Iis
Siti Jaojah
P
MA
T.U
21
Heni
Haryani
P
SMA
Guru Kelas I
Dokumentasi
TU MI Darul Huda 20012
c.Keadaan
Siswa MI Darul Huda
Keadaan
siswa MI Darul Huda Cibadak, setiap tahunnya mengalami peningkatan jumlah siswa
baru yang masuk sampai tahun ajaran 2011 / 2012 kemarin sebanyak 240 siswa dari
kelas 1 sampai dengan kelas 6. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di
bawah ini :
Tabel II
Keadaan Siswa MI Darul Hidayah
Tahun Ajaran 2011 / 2012
KELAS
SISWA
LAKI-LAKI
SISWA PEREMPUAN
JUMLAH
1
32
36
68
2
21
18
39
3
19
22
41
4
12
13
25
5
23
21
44
6
9
14
23
JUMLAH :
116
124
240
Dokumentasi
TU MI Darul Huda 20012
d.Keadaan
Sarana dan Prasarana
Dalam
menyelenggarakan pendidikan sampai tahun 2012 sekarang, MI Darul Huda terus
melakukan penambahan sarana dan juga prasarana pendidikan agar berjalan lancar
sesuai harapan, adapun bangunan kelas dananya diperoleh dari bantuan pemerintah
dan hasil swadaya masyarakat, sedangkan untuk pengadaan sarana pendidikan dana
yang diambil dari bantuan oprasional sekolah (BOS) dari pemerintah. Untuk data
kongkritnya,dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel III
Keadaan Sarana dan Prasarana
MI Darul Hidayah Cibadak
No
Sarana Prasarana
Volume
Keadaan
1
Ruang Kepala Madrasah
1 Ruang
Baik
2
Ruang Guru
1 Ruang
Baik
3
Ruang Tata Usaha
1 Ruang
Baik
4
Ruang Belajar / Kelas
6 Ruang
Baik
5
Ruang Perpustakaan
1 Lokal
Baik
6
Mushola
1 Lokal
Baik
7
Kamar Kecil / WC Guru
1 Lokal
Baik
8
Kamar Kecil / WC Siswa
2 Lokal
Baik
9
Lapangan Upacara
1 Lokal
Baik
10
Meja Kursi Guru
17 Buah
Baik
11
Meja
Kursi Siswa :
a.Meja
b.Kursi
130 buah
245 buah
Baik
Baik
12
Peralatan KBM
29 buah
Baik
13
Peralatan Olah Raga
12 buah
Baik
14
Peralatan Pramuka
9 buah
Baik
15
Buku
Paket & Bacaan
Perpustakaan
532 eks.
Baik
Dokumentasi
TU MI Darul Huda 20012
2.Waktu
Penelitian
Waktu penelitian yang
akan penulis gunakan kurang lebih selama 5 Bulan, yang dimulai awal bulanMei
2012 sampai dengan bulan September 2012. Dengan rincian kegiatan penelitian sebagai berikut :
BAB II
MOTIVASI DAN
PRESTASI BELAJAR
A.Motivasi
Belajar
1.Pengertian Motivasi
Motivasi berasal dari kata Latin “movere” yang berarti dorongan atau
menggerakkan. Motivasi sangat diperlukan dalam pelaksanaan aktivitas manusia
karena motivasi merupakan hal yang dapat menyebabkan, menyalurkan dan mendukung
perilaku manusia supaya mau bekerja giat dan antusias untuk mencapai hasil yang
optimal.
Sardiman (2005:73) menyatakan bahwa
motivasi adalah daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.
Berawal dari kata motif tersebut, maka motivasi dapat diartikan sebagai daya
penggerak yang telah menjadi aktif. Motif menjadi aktif pada saat-saat
tertentu, terutama bila kebutuhan untuk mencapai tujuan sangat dirasakan atau
mendesak.
Menurut W.S Winkel yang dikutip oleh
Max Darsono (2000:61), motif adalah daya penggerak didalam diri orang untuk
melakukan aktivitas-aktivitas tertentu, jadi motif itu merupakan suatu kondisi
internal artinya bahwa motif adalah kesiapsiagaan dalam diri seseorang.
Motivasi diartikan sebagai motif yang sudah menjadi aktif pada saat melakukan
suatu perbuatan, sedangkan motif sudah ada dalam diri seseorang jauh sebelum
orang itu melakukan suatu perbuatan.
Motivasi
menggerakkan organisme mengarahkan tindakan serta memilih tujuan belajar yang
dirasa berguna bagi kehidupan individu. Motivasi mendorong individu untuk
berbuat sesuatu, tetapi motivasi tersebut tidak dapat diamati secara langsung.
Yang dapat diamati secara langsung adalah manifestasi dari motivasi itu dalam
bentuk tingkah laku dan sikap. Dengan mempelajari motivasi maka akan ditemukan
mengapa individu berbuat sesuatu setidaknya akan mendekati kebenaran apa yang
menjadi motivasi individu yang bersangkutan. Itu sebabnya Darsono
mendefinisikan bahwa Motivasi adalah
keadaan individu yang terangsang dan terjadi jika suatu motif telah dihubungkan
dengan suatu pengharapan yang sesuai (2000:63). Dari definisi ini terlihat
bahwa motivasi dapat muncul dari diri individu apabila ada rangsangan dan
dihubungkan dengan suatu pengharapan yang sesuai dalam arti lain adalah tujuan
yang ingin dicapai oleh individu.
Seseorang dikatakan berhasil dalam belajar apabila didalam dirinya sendiri
ada keinginan untuk belajar, sebab tanpa mengerti apa yang akan dipelajari dan
tidak memahami mengapa hal tersebut perlu dipelajari, maka kegiatan belajar
mengajar sulit untuk mencapai keberhasilan. Keinginan atau dorongan inilah yang
disebut sebagai motivasi.
Dengan motivasi orang akan terdorong untuk bekerja mencapai sasaran dan
tujuannya karena yakin dan sadar akan kebaikan, kepentingan dan manfaatnya.
Bagi siswa motivasi ini sangat penting karena dapat menggerakkan perilaku siswa
kearah yang positif sehingga mampu menghadapi segala tuntutan, kesulitan serta
menanggung resiko dalam belajarnya.
Dari beberapa uraian diatas, maka motivasi dapat diartikan sebagai suatu
usaha yang ada dalam diri individu yang berupa sikap, tindakan dan dorongan
untuk bertindak dalam mengarahkan serta menggerakkan individu pada suatu
tingkah laku sehingga tujuan yang dikehendaki tercapai. Memberikan motivasi
kepada siswa berarti menggerakkan siswa untuk melakukan sesuatu.
Pada tahap awal akan menyebabkan siswa merasa ada kebutuhan dan ingin
melakukan suatu kegiatan belajar. Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa
motivasi akan selalu berkaitan dengan soal kebutuhan. Seorang anak akan
terdorong untuk melakukan sesuatu bila merasa suatu kebutuhan itu penting bagi
dirinya. Kebutuhan ini menimbulkan keadaan tidak seimbang, rasa ketegangan yang
meminta pemuasan agar kembali kepada keadaan seimbang yaitu rasa kepuasan dalam
diri.
Dalam kaitannya dengan belajar, motivasi sangat erat hubungannya dengan
kebutuhan aktualisasi diri sehingga motivasi paling besar pengaruhnya pada
kegiatan belajar siswa yang bertujuan untuk mencapai prestasi tinggi. Apabila
tidak ada motivasi belajar dalam diri siswa, maka akan menimbulkan rasa malas
untuk belajar baik dalam mengikuti proses belajar mengajar maupun mengerjakan
tugas-tugas individu dari guru. Orang yang mempunyai motivasi yang tinggi dalam
belajar maka akan timbul minat yang besar dalam mengerjakan tugas, membangun
sikap dan kebiasaan belajar yang sehat melalui penyusunan jadwal belajar dan
melaksanakannya dengan tekun.
2. Macam-macam
Motivasi
Dilihat dari berbagai sudut pandang, para ahli psikologi berusaha untuk
menggolongkan motif-motif yang ada pada manusia atau suatu organisme kedalam
beberapa golongan menurut pendapatnya masing-masing.
Diantaranya menurut Ngalim Purwanto, motif itu ada tiga
golongan yaitu :
1. Kebutuhan-kebutuhan organis yakni, motif-motif yang berhubungan dengan
kebutuhan-kebutuhan bagian dalam dari tubuh seperti : lapar, haus, kebutuhan
bergerak, beristirahat atau tidur, dan sebagainya.
2. Motif-motif yang timbul yang timbul sekonyong-konyong (emergency
motives) inilah motif yang timbul bukan karena kemauan individu tetapi karena
ada rangsangan dari luar, contoh : motif melarikan diri dari bahaya,motif
berusaha mengatasi suatu rintangan.
3. Motif Obyektif yaitu motif yang diarahkan atau ditujukan ke suatu objek
atau tujuan tertentu di sekitar kita, timbul karena adanya dorongan dari dalam
diri kita.
Selanjutnya motif-motif itu dibagi menjadi dua golongan sebagai berikut :
1. Psychological drive
adalah dorongan-dorongan yang bersifat fisiologis atau jasmaniah seperti lapar,
haus dan sebagainya.
2.Sosial Motives adalah dorongan-dorongan yang ada hubungannya dengan
manusia lain dalam masyarakat seperti : dorongan selalu ingin berbuat baik (etika)
dan sebagainya.
Adapun bentuk motivasi belajar di Sekolah dibedakan menjadi dua macam,
yaitu :
1. Motivasi Intrinsik
Motivasi intrinsik adalah hal dan keadaan yang berasal dari dalam diri
siswa sendiri yang dapat mendorong melakukan tindakan belajar.
Dalam buku lain motivasi intrinsik adalah motivasi yang timbul dari dalam
diri seseorang atau motivasi yang erat hubungannya dengan tujuan belajar,
misalnya : ingin memahami suatu konsep, ingin memperoleh pengetahuan dan
sebagainya.
Faktor-faktor yang dapat menimbulkan motivasi intrinsik adalah:
a)
Adanya kebutuhan
b)
Adanya pengetahuan tentang kemajuan dirinya sendiri
c)
Adanya cita-cita atau aspirasi.
2. Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah hal atau keadaan yang datang dari luar individu
siswa, yang mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar.
Bentuk motivasi ekstrinsik ini
merupakan suatu dorongan yang tidak secara mutlak berkaitan dengan aktivitas
belajar, misalnya siswa rajin belajar untuk memperoleh hadiah yang telah
dijanjikan oleh orang tuanya, pujian dan hadiah, peraturan atau tata tertib
sekolah, suri tauladan orang tua, guru dan lain-lain merupakan contoh konkrit
dari motivasi ekstrinsik yang dapat mendorong siswa untuk belajar.
(Muhibbinsyah, 2002:136)
Dalam perspektif kognitif, motivasi intrinsik lebih signifikan bagi siswa
karena lebih murni dan langgeng serta tidak bergantung pada dorongan atau
pengaruh orang lain.
Perlu ditegaskan, bukan berarti motivasi ekstrinsik tidak baik dan tidak
penting. Dalam kegiatan belajar mengajar tetap penting, karena kemungkinan
besar keadaan siswa itu dinamis berubah-ubah dan juga mungkin komponen-komponen
lain dalam proses belajar mengajar ada yang kurang menarik bagi siswa sehingga
siswa tidak bersemangat dalam melakukan proses belajar mengajar baik di sekolah
maupun di rumah. Bahwa setiap siswa tidak sama tingkat motivasi belajarnya,
maka motivasi ekstrinsik sangat diperlukan dan dapat diberikan secara tepat.
3.Faktor Yang
Mempengaruhi Motivasi Belajar
Menurut Max Darsono (2000:65), ada beberapa faktor yang mempengaruhi
motivasi belajar, yaitu:
1. Cita-cita.
Cita-cita adalah sesuatu target yang ingin dicapai. Target ini diartikan
sebagai tujuan yang ditetapkan dalam suatu kegiatan yang mengandung makna bagi
seseorang. Munculnya cita-cita seseorang disertai dengan perkembangan akar,
moral kemauan, bahasa dan nilai-nilai kehidupan yang juga menimbulkan adanya perkembangan
kepribadian.
2. Kemampuan belajar.
Setiap siswa memiliki kemampuan belajar yang berbeda. Hal ini diukur
melalui taraf perkembangan berpikir siswa, dimana siswa yang taraf perkembangan
berpikirnya konkrit tidak sama dengan siswa yang sudah sampai pada taraf
perkembangan berpikir rasional. Siswa yang merasa dirinya memiliki kemampuan
untuk melakukan sesuatu, maka akan mendorong dirinya berbuat sesuatu untuk
dapat mewujudkan tujuan yang ingin diperolehnya dan sebaliknya yang merasa
tidak mampu akan merasa malas untuk berbuat sesuatu.
3. Kondisi siswa.
Kondisi siswa dapat diketahui dari kondisi fisik dan kondisi psikologis,
karena siswa adalah makhluk yang terdiri dari kesatuan psikofisik. Kondisi
fisik siswa lebih cepat diketahui daripad kondisi psikologis. Hal ini
dikarenakan kondisi fisik lebih jelas menunjukkan gejalanya dari pada kondisi
psikologis.
4. Kondisi lingkungan.
Kondisi lingkungan merupakan unsur yang datang dari luar diri siswa yaitu
lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Lingkungan fisik sekolah, sarana
dan prasarana perlu ditata dan dikelola agar dapat menyenangkan dan membuat
siswa merasa nyaman untuk belajar. Kebutuhan emosional psikologis juga perlu
mendapat perhatian, misalnya kebutuhan rasa aman, berprestasi, dihargai, diakui
yang harus dipenuhi agar motivasi belajar timbul dan dapat dipertahankan.
5. Unsur-unsur
dinamis dalam belajar.
Unsur-unsur dinamis adalah unsur-unsur yang keberadaannya didalam proses
belajar tidak stabil, kadang-kadang kuat, kadang-kadang lemah dan bahkan hilang
sama sekali misalnya gairah belajar, emosi siswa dan lain-lain. Siswa memiliki
perasaan, perhatian, kemauan, ingatan, dan pikiran yang mengalami perubahan
selama proses belajar, kadang-kadang kuat atau lemah.
6. Upaya guru
membelajarkan siswa.
Upaya guru membelajarkan siswa adalah usaha guru dalam mempersiapkan diri
untuk membelajarkan siswa mulai dari penguasaan materi, cara menyampaikannya,
menarik perhatian siswa dan mengevaluasi hasil belajar siswa. Bila upaya guru
hanya sekedar mengajar, artinya keberhasilan guru yang menjadi titik tolak,
besar kemungkinan siswa tidak tertarik untuk belajar sehingga motivasi belajar
siswa menjadi melemah atau hilang.
Setiap motivasi berkaitan dengan suatu tujuan. Siswa termotivasi untuk
belajar karena ingin mencapai prestasi yang tinggi dan juga untuk mewujudkan
cita-citanya. Sehubungan dengan hal tersebut, motivasi mempunyai tiga fungsi
yaitu:
1. Mendorong
manusia untuk berbuat. Motivasi merupakan suatu motor penggerak dari setiap
kegiatan yang akan dikerjakan.
2. Menentukan arah perbuatan yaitu kearah
tujuan yang hendak dicapai. Motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang
harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.
3. Menyeleksi perbuatan. Menentukan
perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan untuk mencapai tujuan dengan cara
menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan yang akan
dicapai (Sardiman, 2005:85)
Dengan mengetahui tujuan dari motivasi belajar, siswa diharapkan dapat
motivasi yang tinggi untuk lebih tekun dalam belajarnya, penuh perhatian dan
penuh konsentrasi dalam belajar sehingga tujuan yang diharapkan dapat terwujud
terutama untuk tujuan jangka pendek yaitu prestasi belajar.
Dari berbagai uraian di atas dapat penulis simpulkan bahwa motivasi belajar
merupakan suatu keadaan yang mendorong siswa untuk melakukan aktivitas belajar
yang sangat diperlukan siswa untuk meningkatkan prestasi dalam rangka
mewujudkan cita-citanya.
4.Indikator
Motivasi Belajar
Dalam menentukan indikator penelitian variabel Motivasi Belajar, bertitik
tolak dari uraian di atas bahwa motivasi belajar siswa dipengaruhi dari
seberapa besar semangat dan kesungguhan siswa dalam belajarnya baik saat
mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas, maupun saat belajar sendiri dalam
mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru, termasuk sikap-sikap siswa
yang menunjukan kekuatan motivasi belajarnya. Maka penulis menghimpun untuk
ranah yang menjadi indikator variabel motivasi belajar meliputi : 1.
Kedisiplinan dalam belajar, 2. Memiliki Antusias / Semangat belajar, 3.
Kemampuan mengerjakan tugas, 4. Kemampuan bekerja sama dengan kelompok.Dari ke empat indikator tersebut mewakili
penilaian untuk mengukur kekuatan motivasi belajar yang dimiliki oleh siswa
selama mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
B.Prestasi Mata
Pelajaran Aqidah Akhlak
1.Pengertian
Prestasi
Prestasi adalah suatu kegiatan yang
telah dikerjakan, diciptakan baik secara individual atau kelompok. Dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia, yang dimaksuddenganprestasiadalahhasilyangtelahdicapai(dilakukan,
dikerjakandansebagainya).
Sedangkanmenurut SaifulBahriDjamarahdalam bukunya Prestasi
Belajar dan Kompetensi Guru,menyatakan bahwa prestasi adalah
apa yang telah dapat diciptakan, hasil pekerjaan, hasil yang menyenangkan hati
yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja.
Dalam buku yang sama Nasrun Harahap, berpendapat bahwa prestasi adalah "penilaian pendidikan tentang perkembangan
dan kemajuan siswa berkenaan dengan penguasaan bahan pelajaran yang disajikan
kepada siswa”.